prinsip dasar akuntansi

Penting! Kenali 10 Prinsip Dasar Akuntansi Ini

Untuk menjadi seorang akuntan yang mampu menghasilkan laporan keuangan yang akurat dan valid, kamu perlu menjalankan prinsip dasar akuntansi yang terstruktur dan memenuhi prinsip yang diterima umum.

Prinsip dasar akuntansi bertujuan agar laporan yang dihasilkan dapat dibaca dengan mudah dan dipahami oleh semua pihak yang membutuhkan. 

Pada dasarnya, Prinsip dasar akuntansi adalah acuan atau dasar dalam melakukan proses akuntansi. Penggunaan prinsip dasar akuntansi ini diharapkan mampu menyamakan persepsi dan memunculkan pandangan secara objektif terhadap produk akuntansi yang nantinya menghindarkan dari permasalahan yang berkelanjutan.

Badan pengatur standar akuntansi di Indonesia 

Dikarenakan akuntansi memiliki posisi yang sangat vital dalam sebuah bisnis karena mengurusi bidang keuangan, maka setiap laporan yang dihasilkan harus akurat dan mudah dipahami oleh semua pihak.

Berkaitan dalam aturan dan kebijakan standar akuntansi, Indonesia juga memiliki badan atau lembaga khusus, yaitu IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia). 

Pelaporan yang baik akan membantu pihak internal, investor, bahkan pemerintah dalam memahami kondisi perusahaan dengan hanya melihat laporan keuangan yang dibuat oleh seorang akuntan. 

Oleh sebab itu munculah prosedur akuntansi yang seragam yang kemudian disebut sebagai prinsip dasar akuntansi atau yang lebih dikenal dengan Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum (PABU). 

Prinsip dasar akuntansi 

Adapun prinsip dasar akuntansi adalah berikut ini. 

1. Prinsip Entitas Ekonomi (Economic Entity Principle)

Prinsip dasar akuntansi yang pertama adalah Prinsip Entitas Ekonomi atau yang juga disebut prinsip kesatuan entitas, ini adalah prinsip yang mengakui perusahaan sebagai entitas ekonomi yang berdiri sendiri dan terpisah dari entitas ekonomi lainnya termasuk dengan entitas ekonomi pemilik perusahaan. 

Segala pencatatan transaksi, kewajiban, utang, maupun aset perusahaan adalah milik dan tanggung jawab perusahaan. Sehingga laporan keuangan perusahaan benar-benar menggambarkan kondisi perusahaan yang sebenar-benarnya.

2. Prinsip Periode Akuntansi (Period Principle)

Kedua adalah prinsip periode akuntansi atau yang juga disebut prinsip kurun waktu, ini merupakan pelaporan dan penghitungan keuangan perusahaan yang dilakukan dalam periode waktu tertentu, seperti  laporan keuangan per bulan, per quartal, atau pun per tahun. 

Sebagai contoh laporan keuangan sebuah perusahaan di bulan Agustus, maka laporan keuangan yang dihasilkan merupakan hasil transaksi dari tanggal 1 hingga tanggal 31 Agustus. 

3. Prinsip Biaya Historis (Historical Cost Principle)

Lanjut yang ketiga adalah Prinsip biaya historis, ini merupakan prinsip akuntansi yang menjadi dasar dalam valuasi kewajiban dan aset. Kewajiban dan aset yang dimiliki wajib dilaporkan dalam nilai perolehan, bukan pada nilai penawaran. 

Sebagai contoh, sebuah perusahaan memberi tawaran asetnya dengan harga X, kemudian terjadi tawar menawar dan memperoleh kesepakatan dengan harga Y. Maka yang ditulis dalam laporan tersebut adalah aset dengan harga Y, bukan harga X.

4. Prinsip Satuan Moneter

Yang keempat adalah prinsip satuan moneter, yaitu menyamakan pencatatan yang dilakukan oleh perusahaan dengan satuan kuantitatif yang telah disepakati.

Oleh karena itu, prinsip satuan moneter menganggap satuan hitung yang bersifat kualitatif tidak dianggap relevan untuk digunakan sebagai satuan hitung. 

Sebagai contoh, lembar saham hingga aset dalam bentuk benda tidak bisa dihitung atau dilaporkan sebelum harganya diubah dalam satuan yang telah disepakati atau biasanya satuan yang digunakan adalah satuan mata uang yang berlaku. 

5. Prinsip Kesinambungan Usaha (Going Concern)

Prinsip kelima adalah prinsip kesinambungan usaha, yaitu prinsip yang beranggapan bahwa sebuah bisnis atau entitas ekonomi akan terus berjalan dan berkesinambungan serta tidak adanya penghentian dan pembubaran kecuali terjadi peristiwa yang dapat menyangganya.

6. Prinsip Pengungkapan Penuh (Full Disclosure Principle)

Kalau yang keenam adalah prinsip pengungkapan penuh di mana prinsip ini adalah prinsip yang harus dimiliki laporan keuangan untuk menyajikan informasi yang dapat dipahami dan informatif serta dapat dimaklumkan sepenuhnya. 

Laporan keuangan harus sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan dan tidak ada usaha untuk menutupinya. Jika terdapat informasi yang tidak dapat tersaji dalam laporan keuangan maka bisa mencantumkan catatan kaki atau lampiran dengan keterangan tambahan informasi. 

7. Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Principle)

Prinsip dasar yang ketujuh adalah prinsip pengakuan pendapatan, yaitu prinsip di mana pendapatan yang dihasilkan dari sebuah usaha tercatat dengan baik dalam jumlah dan waktu yang sebenar-benarnya. Munculnya pendapatan diakibatkan oleh kenaikan harta yang dihasilkan dari kegiatan usaha perusahaan, seperti penjualan. 

Dasar dalam pengukuran prinsip pengakuan pendapatan tersebut adalah jumlah kas atau transaksi setara kas yang diperoleh dari transaksi keuangan yang sudah dilakukan, dimana suatu hasil dapat diakui pendapatannya ketika terjadi kepastian mengenai nominal atau jumlah dalam skala besar atau kecil yang dapat diukur secara tepat dari hasil transaksi penjualan barang dan jasa. 

Sebagai contoh, Perusahaan mendapatkan keuntungan 100 juta rupiah dari hasil penjualan produk, hal ini dapat diartikan bahwa 100 juta rupiah tersebut selain diakui sebagai aset atau harta juga harus dimasukkan ke dalam pendapatan.

8. Prinsip Mempertemukan (Matching Principle)

Lanjut yang kedelapan adalah prinsip mempertemukan, yaitu prinsip yang dapat mempertemukan antara jumlah pengeluaran dan jumlah pendapatan yang dihasilkan sama. Namun, matching principle tidak selalu dapat dicapai oleh semua perusahaan dikarenakan pembayaran yang terkadang dilakukan secara tempo atau adanya sebab lain.

Oleh sebab itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukanlah accrual basis dalam pencatatan akuntansinya untuk bisa mendapatkan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip akuntansi tersebut. Dari cara tersebut akan ada jurnal penyesuain yang menyesuaikan antara pengeluaran dan pendapatan di akhir periode.

9. Prinsip Konsistensi (Consistency Principle)

Selain itu, prinsip kesembilan adalah prinsip konsistensi, yaitu sebuah prinsip di mana setiap perusahaan membuat laporan keuangan di setiap periodenya dengan cara atau metode yang sama. Pelaporan yang konsisten akan sangat berguna untuk membandingkan laporan satu periode dengan laporan pada periode sebelumnya. 

Apabila perusahaan terpaksa harus mengubah metode dalam menyajikan laporan keuangan tersebut, disarankan untuk membuat keterangan tambahan dan penyebab mengapa metode laporan keuangan perusahan mengalami perubahan. 

10. Prinsip Materialitas

Terakhir, atau yang kesepuluh adalah prinsip materialitas, yaitu prinsip yang beranggapan bahwa ukuran dan catatan akuntansi sesuai dengan nilai yang dimiliki oleh material terkait. Nilai ini dicatat dalam bentuk nominal yang bisa dijual.

Proses Akuntansi

Dalam membuat sebuah laporan keuangan yang baik sesuai dengan prinsip dasar akuntansi, terdapat proses akuntansi yang terbagi menjadi 4 tahapan seperti di bawah ini:

  • Mencatat Data Transaksi, merupakan bagian terpenting dalam proses akuntansi, di mana setiap transaksi dicatat dan dibukukan dengan baik dan sesuai dengan kenyataan.
  • Mengelompokkan Data Transaksi, data yang ada dikelompokkan menurut kategori-kategori yang sudah ditentukan untuk memudahkan dalam penyusunan laporan keuangan.
  • Membuat Laporan Data Transaksi, setelah data dicatat dan dikelompokkan barulah laporan keuangan dapat dibuat dan disajikan setiap periodenya.

Menganalisis Hasil Laporan, dari laporan keuangan tersebut akan dihasilkan berbagai informasi penting terkait keuangan perusahaan, seperti laporan laba rugi, laporan arus kas, dan lain sebagainya yang bisa digunakan sebagai bahan evaluasi perusahaan ke depannya.

cta prinsip dasar akuntansi

Membuat laporan pembukuan dan pencatatan transaksi keuangan bukanlah tugas yang mudah. Dibutuhkan ketelitian, pengalaman, serta wawasan tentang numerik yang tinggi. Sayangnya, apabila hanya mengandalkan tenaga manual seperti karyawan atau admin, maka masih berisiko terjadi kesalahan manual. 

Saatnya, perusahaan Anda meningkatkan sistem pembukuan usaha bersama Nesto Accounting Software. Dengan Nesto, menangani tugas pembukuan semakin cepat, praktis, dan akurat, sehingga pembukuan usaha jadi bebas ribet. Fitur-fiturnya lengkap dan harga terjangkau bagi pelaku UMKM, mulai Rp180 ribu per bulan.

Untuk membuktikan seberapa canggih fitur Nesto untuk bisnis, silakan uji pakai GRATIS selama 3 bulan, tanpa biaya apapun. Klik tautan ini untuk daftar hari ini!

Leave a Comment