proses akuntansi

Gimana Proses Akuntansi Berjalan? Yuk, Pelajari Disini!

Membahas tentang akuntansi, tak bisa dilepaskan dari pembukuan atau siklus akuntansi. Proses tersebut menjadi bagian dalam serangkaian tahapan yang dimulai ketika transaksi berlangsung, sampai diakhiri dengan pembuatan laporan keuangan. 

Tujuan dari proses akuntansi/pembukuan ini adalah mengubah keseluruhan bentuk transaksi yang telah berlangsung dalam suatu bisnis menjadi informasi keuangan. Sehingga, setiap transaksi tersaji dalam bentuk data yang mudah dibaca dan dipahami pada laporan akuntansinya. 

Terlepas dari apa pun jenis perusahaan atau jumlah transaksinya, langkah atau proses dalam akuntansi yang berjalan hampir serupa. Beberapa perusahaan ada yang membuat laporan keuangan ini setiap tiga bulan sekali, ada juga yang menyiapkan laporan per tahun. 

Ini artinya, setiap perusahaan selama triwulan akan menyelesaikan siklus akuntansi per tiga bulan sekali. Sementara, perusahaan tahunan menyelesaikan proses akuntansinya setahun sekali. 

Bagaimana Proses Akuntansi Berjalan? 

Setiap langkah dalam siklus akuntansi dirancang untuk meminimalisasi kesalahan atau sebagai “check and balance” selama perjalanan proses akuntansi berlangsung. Untungnya, saat ini banyak software akuntansi modern yang bisa mempermudah dan membuat proses akuntansi semakin sistematis dan akurat. 

Untuk memahami bagaimana proses akuntansi berjalan, mari lihat tahap-tahap berikut lebih detail:

1. Transaksi berlangsung di perusahaan 

Saat transaksi keuangan berlangsung, dari sinilah proses akuntansi dimulai. Pencatatan dan pemantauan transaksi yang efektif sangat penting dalam tahap ini. 

Proses pertama adalah mendokumentasikan semua transaksi yang pernah terjadi di perusahaan. Maka dari itu, sebaiknya perusahaan memiliki sebuah sistem, platform, atau software yang bisa membantu mempermudah pencatatan transaksi agar tidak mengandalkan tenaga manual yang rentan kesalahan. 

Pencatatan transaksi di sini bisa berupa bukti atau dokumen yang dicatat dan disimpan rapi, seperti kwitansi, tanda terima, faktur tagihan, struk, purchasing order, dan lainnya. 

Mungkin mencatat transaksi terdengar sederhana, benar? Tapi, coba bayangkan betapa repotnya jika transaksi bisnis mencapai ribuan bahkan jutaan tergantung pada skala ukuran perusahaan. Proses akuntansi yang hanya mengandalkan tenaga manual atau staf finance saja tidak cukup karena pencatatan transaksi harus dipastikan ditulis secara terorganisasi, rapi, dan akurat. 

2. Mencatat transaksi di jurnal 

Proses akuntansi yang selanjutnya adalah entri jurnal atau mencatat transaksi di buku jurnal. Dalam tahap ini, debit dan kredit berkaitan dengan setiap akun yang dicantumkan dalam jurnal. 

Istilah pembukuan berasal dari tahap ini, karena jurnal juga kadang dikenal sebagai buku besar. Satu perusahaan bisa memiliki banyak jurnal atau buku besar, tetapi pada umumnya terdapat beberapa jenis jurnal yang dijumpai. Di antaranya: 

  • Jurnal Penerimaan Kas
  • Jurnal Pengeluaran Kas
  • Jurnal Penjualan
  • Jurnal Pembelian
  • Jurnal Umum

Akuntan atau staf keuangan akan memutuskan akun mana dan berapa banyak jurnal yang akan dibuat berdasarkan kegiatan operasional bisnis. Nantinya, setiap transaksi yang masuk dalam jurnal harus disesuaikan dalam urutan waktu tertentu.

Selain itu, transaksi juga dikelompokkan ke dalam kolom sisi debit dan sisi kredit. Kolom lainnya yang umum dijumpai, seperti tanggal transaksi, keterangan, nama akun, dll. 

3. Memposting entri jurnal ke buku besar

Di setiap akhir periode bulan, perusahaan perlu merangkum jurnal dengan menjumlahkan kolom debit dan kredit. Selanjutnya, diposting ke buku besar. 

Proses atau siklus akuntansi ini disebut “posting ke buku besar”. 

4. Menyiapkan neraca saldo yang belum disesuaikan

Saldo buku besar kemudian diambil dan dipindahkan ke Neraca Saldo yang belum disesuaikan. Tujuan menyiapkan neraca saldo yang belum disesuaikan adalah untuk memastikan bahwa semua saldo debet dan kredit jumlahnya sama. 

Kalau ada perbedaan jumlah dalam kolom debit dan kredit, berarti ada kesalahan atau kekeliruan saat posting di proses akuntansi sebelumnya. 

5. Membuat jurnal penyesuaian

Jurnal penyesuaian dibuat untuk menyesuaikan akun pemasukan dan pengeluaran agar sesuai dengan konsep akuntansi akrual. Tujuan dari proses akuntansi ini adalah mencocokkan pemasukan dan pengeluaran sesuai periode akuntansi perusahaan. 

Contoh jurnal penyesuaian adalah entri yang terkait dengan depresiasi, amortisasi, dan pembayaran di muka, seperti sewa dan asuransi.

6. Menyiapkan neraca saldo yang disesuaikan 

Neraca saldo yang disesuaikan adalah daftar saldo akun buku besar yang dibuat setelah persiapan jurnal penyesuaian.

7. Penyusunan laporan keuangan

Neraca saldo yang disesuaikan dipakai untuk membuat laporan keuangan, seperti laporan laba rugi, neraca, dan laporan arus kas.

8. Menutup buku

Pemilik dan manajemen bisnis harus mampu mengukur keuntungan, biaya pengeluaran, serta seluruh sumber daya yang dipakai dari periode ke periode. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk membandingkan laporan keuangan periode sebelumnya dan sekarang. Apakah perusahaan sedang mengalami peningkatan atau justru penurunan profit? 

Untuk mengetahui informasi ini, akun pemasukan dan pengeluaran harus dimulai lagi dengan saldo nol di akhir setiap periode akuntansi. Setiap keuntungan bersih kemudian akan ditransfer ke saldo laba. 

Sedangkan, akun neraca seperti aset, kewajiban, dan modal (ekuitas) akan dicatat lagi di periode berikutnya karena akun-akun tersebut adalah bagian bisnis yang berkelanjutan. Pada tahap inilah, proses akuntansi dimulai dari awal lagi.

Pentingnya Software Akuntansi Modern untuk Pembukuan Bisnis 

Tak bisa dibayangkan betapa repotnya apabila pembukuan bisnis masih menerapkan pencatatan manual. Pencatatan transaksi dalam skala kecil mungkin masih bisa ditangani. Akan tetapi, bila suatu saat bisnis semakin berkembang dan tumbuh, staf finance akan merasa kewalahan dan tersita banyak waktu, tenaga, serta rentan terjadi kesalahan. 

Saat ini, banyak bisnis sudah mulai beralih ke sistem akuntansi modern. Perangkat lunak ini memungkinkan pemilik bisnis untuk melacak transaksi keuangan dan langsung menghasilkan berbagai laporan keuangan secara otomatis. 

Kamu tertarik meningkatkan sistem pembukuan bisnis ke software akuntansi online? Keputusan yang tepat sekali! Software akuntansi online dapat memudahkan pelaku UMKM dan pebisnis mengelola prosedur akuntansi dan keuangan secara cepat dan akurat. 

Software akuntansi online bisa mengotomasi tugas-tugas pembukuan secara cepat dan praktis. Pemilik bisnis bisa mengambil keputusan keuangan lebih bijak dengan melihat laporan keuangan secara real time lewat smartphone, tablet, atau perangkat desktop. 

Nesto Membantu Ribuan Klien di Indonesia Menangani Tugas Pembukuan secara Akurat, Rapi, dan Otomatis. 

Perlu diingat bahwa software akuntansi memang tidak menggantikan peran manajer akuntansi dalam mengelola keuangan perusahaan. Melainkan, semakin meningkatkan produktivitas tim accounting. Tugas-tugas administratif yang berulang dapat diselesaikan secara otomatis dengan software akuntansi online.

cta proses akuntansi

Salah satu software akuntansi online yang paling direkomendasikan saat ini di Indonesia adalah Software Akuntansi Nesto. Jika mengandalkan proses akuntansi manual sangat menyita banyak waktu dan tenaga, Nesto dapat membantu membuat laporan keuangan secara otomatis dan real time. 

Nesto menyediakan software akuntansi yang lengkap dan telah disesuaikan dengan sistem perpajakan Indonesia. Software akuntansi Nesto berbasis cloud dan aplikasi seluler, jadi menghadirkan fleksibilitas tinggi dalam pengelolaan keuangan, meski sedang work from home.

Yuk, coba GRATIS aplikasi Nesto selama 3 bulan, daftar melalui tautan ini. Atau, follow Instagram @nesto.id untuk info fitur-fiturnya lebih lanjut.

Leave a Comment